saraahmegha.com

Thrift: Bisnis Awul-Awul Bercita Rasa Fancy

43 komentar

thrift
Jejeran Pakaian Thrift

Thrift, apa sih yang langsung ada dibenak kalian ketika mendengar kata thrift? 

Aku pribadi saat pertama mendengar kata tersebut hanya diam dan segera ambil gawai langsung browsing, alias gak tahu haha.

Namun, saat ada yang menyebut “awul-awul” aku akan segera mengatakan ooooooooo.

Meski memang tak bisa disamakan, antara pengertian thrift dan awul-awul ini, namun sama-sama menjual barang “bekas”. 

Akan tetapi ada pula yang mengatakan kalau thrift berbeda dengan baju preloved.

Oke sedikit kisah tentang perjalanku menemukan thrift ini.

Suatu pagi aku menemukan salah satu postingan dari akun dakwah. Mengingatkan sebaiknya memakai pakaian sopan meski di dalam rumah, terlebih bila kita memiliki anak laki-laki. 

Postingan itupun mendapat “anggukan seiya” suamiku, yang sepertinya kala itu sedang berusaha untuk berdialog secara hati-hati supaya aku tak tersinggung, mengingat kebiasaanku di rumah hanya memakai celana pendek yang kadang hotpan dan kaos pendek (atau kaos gomrong suami haha)

Bersyukur, saat itu aku yang membuka obrolan terlebih dahulu, kemudian berlanjut dengan mencoba mengumpulkan pakaian-pakaian apik sopanku, yang dahulu sempat kusimpan karena memilih memakai daster saja pasca melahirkan.

Namun, bagian paling sedihnya adalah...

Sudah gak muat, sad.

Qodarulloh, apakah memang takdir Allah atau memang algoritma instagram, aku menemukan salah satu akun seorang perempuan yang pandai memadu padankan pakaian, dari rok dan atasan. 

Karena dilantas apik olehku dan sepertinya aku suka stylenya, berlanjut dengan “kepokepi” akun tersebut dari atas sampai bawah.

Apik, batinku.

Lalu, algoritma instagram mengantarkanku pada salah satu reel jualan pakaian-pakaian nuansa korea. 

Antara simpel dan shabby lucu, dengan aneka sweater dan model yang menggemaskan.

Aku masih penasaran, dan berharap menemukan toko yang menjual barang serupa, kucek bagian tagar, yang ternyata tersemat #thrift. Oke rasa kepoku makin membuncah.

Singkat cerita aku menemukan salah satu toko yang berlokasi dekat dengan rumahku, sebenarnya sudah ada satu tahun terakhir ini dengan tulisan “pakaian start 10.000”. 

Sebagai ibu-ibu dengan jiwa bagaimana mendapatkan baju banyak dengan uang 100.000 pun meronta-ronta.

Namun sayang, seringnya toko tersebut dalam keadaan tutup, barulah aku tahu kalau sistem jualan mereka melalui live tiktok.

Aku segera meluncur ke akun tiktok mereka karena penasaran, dan terpampang di bio mereka aneka thrift korea. Baik.

Ada apa dengan thrift? Aku segera browsing dan mencari tahu, ternyata thrift ini memang bisnis yang sedang menjadi primadona bagi kalanagan anak muda.

Aku segera flashback dibeberapa tahun lalu saat masih belia, senada saat itu sedang hits awul-awul. 

Di Kota Semarang sendiri, tiap hari ahad di simpang lima akan ada banyak tenda-tenda yang menjual awul-awul, dahulu bagiku itu adalah harta karun tersendiri.

Puas rasanya menemukan “Hidden gems” dengan harga hanya goceng. Bagi mahasiswa sepertiku kala itu cukup lumayan lah. 
awul-awul
awul-awul Semarang

Meski masih ada imej “hhaaa awul-awul? Baju bekas dong” tapi tetap saja banyak peminatnya.

Awul-awul zamanku dulu memang memiliki imej kumuh dan bau. 

Lokasi tenda awul-awul malah beberapa ada genangan air di tengah-tengah tenda, namun percayalah banyak pakaian dengan model unik-unik di sana.

Kemudian saat melihat thrift ini aku merasakan kemiripan namun sensasi yang berbeda.

Apa yang berbeda? Simak ya.

Fenomena Thrift

Barang yang dijual antara thrift dan awul-awul terbilang hampir mirip, karena aku lebih tertarik dengan baju jadi kubilang baju bekas. 

Baik itu baju sisa produksi atau baju yang memang sudah tak terpakai.

Lantas, darimana asalnya? Dilansir dari berbagai sumber baju thrift atau bekas berasal dari Amerika, China, Jepang, Korea, dan beberapa negara lainnya. 

Baju-baju ini diimpor dalam jumlah yang begitu besar. Tidak hanya baju, mulai dari jaket, hoodie, celana panjang dan pendek, sepatu, sandal, topi, hingga bra juga tersedia.

Thrift sebenarnya adalah sampah pakaian dari luar negeri yang masuk ke Indonesia. 

Jadi bisa dikatakan bahwa Indonesia menjadi tempat sampah dari pakaian luar negeri. Namun, ternyata ini menjadi peluang bisnis tersendiri bagi sebagian orang.


Thrift menjadi primadona, karena dengan harga murah kita bisa memiliki style ala korea, namun disatu sisi aku membaca salah satu artikel bahwa thrift ini berpotensi merugikan negara atau mematikan bisnis start up pakaian lokal.

thrift-online
sumber: instagram @shellwethrift
Adapula yang beropini bahwa thrift ini adalah solusi dari mengurangi limbah pakaian.
  

Sistem beli yang berbeda

Sedikit pengalaman saat aku berbelanja pakaian thrift ini melalui salah satu toko pakaian yang jaraknya hanya “lima langkah dari rumah” (baca: dekat).

Sistem yang mereka tawarkan dengan cara live shop via tiktok,dimulai dari jam 7 pagi sampai 10 malam, coba bayangkan live bicara dari jam 7-10, ya meski dibagi menjadi tiga host, tetap saja menurutku cukup wow.

Jika tak salah ingat ada jadwal host nya dan barang yang dijual, kalau toko yang dekat rumahku ini, live jam 7 pagi sampai 2 siang menawarkan baju blouse  dan baju-baju model korea.

Lalu dilanjut dari jam 2 siang sampai 10 malam live cardigan dan outer yang kadangkala dibagi menjadi dua host, sehingga dalam satu hari live ada tiga host nonstop bergantian. 

Oke lanjut.

Host akan mereview satu-satu pakaian, dari bahan ukuran lingkar dada sampai panjang, dan juga akan mengatakan jika barang tersebut bermerek atau bukan. 

Harga yang ditawarkan bervariasi, dari lima ribu rupiah, atau bahkan pernah sampai 65 ribu rupiah kalau tak salah menyimak.

Host akan memberikan clue pakaian misal untuk pakaian A dengan review begini dan begitu lalu dijual dengan harga 15 ribu maka cluenya 1515, para penonton (kemudian baca:para thrifter) live tiktok yang berminat dengan pakaian tersebut akan war cepat-cepatan untuk mengetik clue dan host akan mencari yang tercepat sesuai clue nya.

Setelah dipilih oleh host kemudian para thrifter yang menulis clue tersebut di kolom live akan diminta screenshoot pakaian tersebut dan segera chat admin untuk direkap.

Belum selesai.

Usai chat admin, para thrifter akan diberi kesempatan ikut live tiktok sampai maksimal 3 item pakaian yang kemudian akan diingatkan oleh admin untuk chek out.

Saat itu aku membeli tiga baju dengan harga 50.000, yang kemudian aku mendapat link dari admin untuk segera chek out via tiktok. 

Saat itu aku mendapat promo dari tiktok (mungkin karena baru pertama memakai fitur belanja dari tiktok hahaha) sehingga aku hanya membayar 39 ribu dan gratis ongkir.

Sedikit informasi, awalnya aku mengira aku bisa mengambil langsung ke toko tersebut, ternyata tidak. 

Aku harus menunggu terlebih dahulu karena ternyata dikirim melalui kurir.

Bayangkan padahal toko hanya berjarak “lima langkah dari rumah” hahahaha, dan aku harus bersabar menunggu dua hari paket itu berputar dibawa kurir ekspedisi.

Usai pakaian sampai, aku menemukan sensasi yang berbeda, pakaian thrift tersebut memang dikemas dengan baik, dan harum semerbak.

Usai hunting pertama di toko Semarang, aku masih penasaran dan menemukan Thrift via Instagram, berbeda dengan yang pertama. Para pemburu langsung diberi katalog instagram, dan informasi detail serta informasi jika barang ready atau sudah dikeep orang lain. 

Sumber: instagram @owelthrift.shop

Untuk harganya sendiri terbilang "lebih mahal" dibanding yang pertama, mungkin karena pakaian yang ditawarkan memang lebih "apik".

Kesan

Sebuah review jujur dari lubuk hati, “Ribet” hahaha, karena memang rasanya ribet. 

Sensasinya memang berbeda saat terjun langsung mencari “Hidden gems” di antara “slempitan-slempitan” baju di awul-awul, lebih taktis dan bisa memegang langsung barangnya.

Sedangkan untuk thrift ini, kita harus bersabar menyimak host membuka satu persatu review pakaiannya. 

Aku rasa cukup buang-buang waktu tapi ada rasa penasaran kalau terlewat hahaha.

Harga yang ditawarkan cukup berbeda, terbilang untuk thrift ini rata-rata dibanderol harga 35-65 untuk pakaian yang menurutku bagus. 

Sedangkan di awul-awul harga paling maksimal untuk baju yang benar-benar bagus dan bermerek di sekitar 25 ribu.

Meski begitu aku memaklumi kenapa ada selisih harga, selain menyewa tempat yang lebih bersih, pakaian-pakaian yang dijual pun melalui proses cuci setrika *sepertinya.

Kemudian ada lagi biaya untuk host dan live streaming setiap harinya. Jadi ya impas lah, ehh mungkin profit besar, dan sepertinya menjadi bisnis yang cukup menggiurkan.

Teringat salah satu mentor bisnis dalam acara sispreneur W20 yang kuikuti beberapa waktu lalu, beliau menjelaskan mengenai bisnisnya yaitu “mengemas dan membuat modern” jajanan jadul rambut nenek. 

Inovasi produk, dan aku menyimpulkan bahwa thrift ini adalah salah satu inovasi mengemas awul-awul menjadi lebih fancy dan modern.

Gimana? tertarik untuk mencoba? 


Related Posts

43 komentar

  1. Beberapa tahun lalu penjualan baju awul-awul sempat booming. Tetapi sekarang dengan maraknya sosmed, penjualan lebih banyak lewat online.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin efek pandemi kemarin juga ya ba, jadi bagaimana caranya tetap berputar, jadi inovasinya lewat online

      Hapus
  2. Waaah, jadi inget dulu juga sering hunting awul-awul. Mengakui sih, memang sensasi mengaduk2 itu lah yang beda, hehehe. Btw, dulu aku dapet celana panjang yang dipakenya tu nyaman banget, trs dapet juga kemeja putih 3 buah buat awal-awal kerja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan sensasi aroma-aroma yang agak gimana gitu ya mbak haahah, mau dipakai direndem air panas dulu hahaha

      Hapus
  3. Terima kasih mbak infonya... Bermanfaat sekali.. Saya juga baru tahu istilah Thrift ini dari mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama sama mbak, semoga bermanfaat ya mbak

      Hapus
  4. wah aku malah blm.pernah coba cari baju lewat thrift ini mba..ternyata seru juga ya..hehe..jadi penasaran aku! trims sdh sharing pengalaman ini ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. cobalah mbak hihihi, barangkali dapat gem stone *ajakan macam apa inih hahaha

      Hapus
  5. Di Batam banyak produk fashion begini, biasanya dapat dari Singapura. Barang branded, harganya miring abis.
    Baju, sepatu terlihat bersih dan dijejerin mirip barang baru.
    Klo rajin ngubek-ngubek, bisa dapat barang baru juga sih, bahkan masih ada labelnya.
    Sekarang mulai banyak juga yang beralih ke online sistem penjualannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya banget mbak, dahulu tahun 2008 kalau gak salah pas mau ke singapur transit ke batam dulu, diajak muter muter dan banyak baju baju thrift gini ya mbak

      Hapus
  6. Lagi happening bgt thrift ini ya mbaa

    Daku blm.pernah coba siik.
    Mungkin suatu hari mau ikutan libe shopping review nya.

    Siapa tau ntar cucok

    BalasHapus
    Balasan
    1. hyaaak bajunya bajunya dicoba dicoba dicobaaa hihi

      Hapus
  7. Dulu pas jaman aku masih SMK di tahun 2011, saat itu sudah booming thrift awol-awol ini, Mbak. Tapi ya gitu cuma dijual secara offline. Kalau saat ini thrift awol-awol bisa dibeli secara online jadi mudah dan praktis ya, Mbak. Btw, salam kenal ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa mbak, ataukah kita satu angkatan mbak hihihi, salam kenal mbak sitii

      Hapus
  8. Dulu. Emakku juga suka beli baju awul-awul. Biasanya untuk pakaian rumahan. Cari yang bahannya adem gitu. Kalau online kan nggak bisa dipegang ya. Cuma modal percaya sama host doang. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iniii iya banget mbaak, tapi lumayan untuk dipakai di rumah, beberapa kondisi juga menurutku terbilang masih apik hihi

      Hapus
  9. Thrift? Masa sih Mbak gak tahu? Sama donk aku juga gak tahu. Tahunya habis baca tulisan Mbak. Hahaha

    Wah mayan nih dapat awul awul gini. Barangnya oke juga ya Mbak, apalagi harganya gak bikin dompet menangis. Aku mau coba ah *eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbaaak, kok sama hahahahaa, ngethrift adalah jalanku supaya tidak membuat dompet menangis hahaha

      Hapus
  10. Saya baru tahu thrift dan awul-awul... Dari mbak. Hehe.. Nggak pernah beli dan nggak pernah ngelirik gini karena takutnya ribet. Tapi suami kadang bawa baju bekas dari kantor, baju yang udah lama ditinggalkan customer tp masih oke dia bawa pulang drpd dibuang. Nggam tahu ini termasuk thrift atau awul awul

    BalasHapus
    Balasan
    1. dulu awul awul ini sempet hits pada masanya mbak

      Hapus
  11. Waktu awal bermunculan Thrift Shop ini aku juga berkernyit. Apa sih ini. Bedanya sama toko baju pada umumnya apa. Oalah jebul awul-awul hehe.

    Sejujurnya aku belum pernah nyoba beli di awul-awul versi jadul ataupun versi zaman now. Baca ini jadi ada bayangan, hehe.

    Tapi kalau soal jualan di TikTok shop memang sekarang modelnya begitu ya. Kadang aku suka terlena nontonin mereka jualan, seru soalnya wkwk. Plus karena cepetnya lebih nyampai dibanding marketplace yang onoh. Cuma belum pernah nyoba kalau yang thrift shop. Boleh lah ya kapan2.

    Btw, aku juga hobi kaosan kalau di rumah wkwk. Tapi ga berani kalau pakai hotpant, diceramahin anakku ntar :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. naaaah, daripada ghaaziy selak beranjak gede, dan aku dimarahi ghaaziy. aku akan sadar diri mbak hahaha

      Hapus
  12. Dulu pas awal tinggal di Jakarta hobi beli thrift shop gini. Cuma dulu belum tren istilah thrift. Ada mantel Korea bahan rajut aslinya ratusan ribu bisa dapat Rp 40 ribu tuh dah senqng banget. Tapi saya udah diet beli baju baru 10 tahunan nih. Beli kalau butuh aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepakat mbak, ini salah satu gemstone yang kucari mbak, karena kalau harga rajut asli memang dibanderol mahal, ya karena uniknya ya

      Hapus
  13. Dah jarang denger kata ngawul disini 🤣 begitu diganti jd thrift berasa naik kelas ya. Aslikk skrg banyak banget akun begitu. Aku sempet pgn ikutan beli to gak sabaran war nya. Skip aja deh. Btw sebenernya beli bekas gini ada baiknya lho mbaa. Memperpanjang umur barang jd gak numpuk deh sampah fashion dgn beli baruu terus ngikutin tren 🥺

    BalasHapus
  14. Awul awul ini ada dikota mana aja ya bun, spill bun, kalau ada di Surabaya. Tapi ini bagusnya dipakai dewasa ya bun, kalau beli di awul awul, kalau pakai bayi, kasihan ya bun?.emang iya sih ikutan live tiktok kayak menyita waktu banget, mau ikutan live tiktok baju bayi, masih belum belum jadi aja, sampai sekarang

    BalasHapus
  15. Kuncinya harus telaten berarti ya kalau mau dapet baju yang bagus lewat thrift

    BalasHapus
  16. Dulu, kalau masih sendiri betah banget di antara awul-awul ini. Berjam-jam memilih dan memilh terbayar dengan barang yang dibawa. Serasa menemukan harta karun. Kalau sekarang? Pilih yang simpel saja. Bocil tak mau ditinggal.

    BalasHapus
  17. dua saudara sepupuku mbak bisnis ini dan laris manis, sepupu yang satunya lagi malah dulunya jalan sendiri sekarang jadi punya pegawai, bajunya sudah dialundry, jadi customer suka karena mereka terima dalam keadaan wangi dan rapi

    BalasHapus
  18. Oalah namanya thrift toh, baru tahu aku
    Istilah awul awul pun aku baru tahu
    Haha, mainku kurang jauh
    Aku tahunya bisnisnya preloved kalau jual pakaian bekas gini, eh sama apa g mbak?

    BalasHapus
  19. Sebelum marak dan viralnya Thrift Shop, kalau di Bandung terkenal dengan segala thrift itu di pasar cimol gedebage dan kalau di pasar kaget pasti suka ada stand yang jualan thrift.
    Beli bekas itu bukan berarti seolah gimana, kalau pintar memilih pasti bukan hanya dapat barang tapi dapat juga histori ketika sudah memiliki barang itu

    BalasHapus
  20. Bandung kayanya jualannya pakai metode Thrift ini untuk baju-baju import.
    Kalau pinter milih, bisa jadi OOTD yang keren sih ya.. Tapi kalau mau dijual lagi, kudu pasrah dengan pilihan 1 bal dari penjualnya. Testimoninya, banyak yang suka dan puas kok.

    BalasHapus
  21. Terimakasih infonya bermanfaat sekali mbak. memang saat ini sudah marak ya menjualan dengan metode online di berbagai marketplacr maupun media sosial

    BalasHapus
  22. Ribet emang bener banget si tapi rasa puasnya bisa nemuin outfit yg kita impikan dengan harga yg murah itu rasanya ga tergamtikan drh

    BalasHapus
  23. Ih samaan mbak, aku juga seneng nge-thrift. Biasanya bajunya unik unik, dan langka modelnya daripada yang di Indonesia. Jadi pengen thrifting lagi nih :O

    BalasHapus
  24. Beberapa kali diceritain temen nih tentang perburuan 'gemstone' di thrift shop kayak gitu. Kayaknya aku ga kuat mental deh untuk sesabar itu nungguin satu-satu di-view. Padahal seru yaa.. kalau dapet yang sesuai keinginan pasti happy bangeeett...

    BalasHapus
  25. Pernah nganter anak nyari barang thrift. Dianya yang girang, sementara aku nggak sabar banget nyari barang bagus yang tersembunyi.

    BalasHapus
  26. Kalau di Medan ada namanya juga, baju Monza, Mbak.

    BalasHapus
  27. Aku juga pernah keracunan beli baju impor campur (baju bekas plus limited edition) yang dijual di Facebook Live. Tapi aku lebih pilih yang limited edition😁, walaupun agak mahal dari yang bekas.

    BalasHapus
  28. Nah, saya baru tahu istilah thrift nih, istilah awul-awul juga gak ngeh tapi kalau dari baca penjelasan di atas mungkin mirip dengan yg namanya "Cakar bongkar". Di sini sebutnya gitu kalau kita mau beli pakaian bekas dari LN dwngan harga murmer. Eh cuma saya belum pernah ikut thrift yang live tiktok nih. Jadi penasaran.

    BalasHapus
  29. Haha kalau baju thrift biasanya dikemas lebih rapi dan menarik ya beda degan awul-awul yang seadanya saja dipajang hehe... sama-sama bekas tampilan berbeda jauh..

    BalasHapus
  30. Aku dulu juga suka cari baju di awul-awul mba, lumayan banget suka dapet baju bagus dengan harga super miring. Nah, kalau thrift ini belum pernah coba. Setelah baca ini kayaknya seru juga ya berburu thrift. Hihi

    BalasHapus
  31. Lagi menjamur sekali bisnis thrift ini. Tapi saya pribadi belum pernah mencobanya. Kalau dulu saya pernah beli baju-baju cimol. Konsepnya serupa, hanya beda nama saja. Sama dengan awul-awul di Semarang itu.

    BalasHapus

Posting Komentar