saraahmegha.com

Tragedi Itaewon dan Pentingnya Mempelajari Pertolongan Pertama

14 komentar
itaewon
Pentingnya belajar pertolongan pertama

Pagi tadi lagi-lagi mendapat berita yang mengejutkan. Tragedi Itaewon, berpamitan untuk halowen namun kembali tinggal nama saja. Rasanya mengingatkan dengan tragedi kanjuruhan, meski berbeda case dengan Itaewon ini. Oke, bicara tentang Itaewon bisa dibilang aku pribadi tahu tentang Itaewon dari salah satu drama korea Itaewon Class. Ada satu potongan cuplikan, di mana dua dari pemeran utama bertemu kembali dengan berdesak-desakan di salah satu jalan Itaewon ketika pesta hallowen. Ternyata cuplikan itu memang kejadian yang sesungguhnya.

Faktanya memang Itaewon menjadi salah satu tempat yang memang harus dikunjungi saat perayaan Hallowen, kenapa? Karena Itaewon salah satu tempat dengan segala keberagaman termasuk keberagaman makanan. Persis seperti yang kutonton di drama korea. Meski aku bukan drama korea lovers, namun kuakui aku menonton beberapa drama yang mana memiliki alur cerita yang seringnya menarik dan adakalannya tak bisa tertenak serta cerita dengan riset yang baik sehingga menjadi tontonan informatif bagi yang menonton.

Ada apa dengan Itaewon


Oke kembali ke berita Itaewon, saat aku berselancar ke media sosial instagram, salah satu berita yang kufollow dengan headline 50 orang dinyatakan meninggal dan lainnya luka-luka karena gagal jantung saat merayakan Halloween di Itaewon. Aku segera meluncur ke bagian komen karena khawatir itu hanya clickbait, salah satu netizen menyarankan jika tal kuat jangan sampai melihat atau membaca via twitter.

Namun, dasar aku yang malah penasaran, langsung melincur ke twitter dan menemukan beberapa video saat kejadian. Mayat-mayat yang berjejer. Pemadam kebakaran yang sedang mengupayakan CPR, atau bahkan masih ada orang yang asyik party meski kendaraan ambulan dan pemadan kebakaran sudah berlalu lalang.

Lalu ada satu video yang membuatku berpikir dalam, yaitu salah satu petugas pemadam kebakaran atau medis, yang meminta pertolongan warga yang bisa melakukan CPR karena korban yang berjatuhan semakin banyak dan tenaga medis mulai kewalahan.

Kemudian aku random, dan muncul satu instagram story dari salah satu temanku dengan caption "Olahragalah, karena kami butuh stamina yang baik ketika akan menolong orang" dengan gambar cara melalukan CPR.

Apa itu CPR?


CPR adalah CARDIOPULMONARY resuscitation atau CPR merupakan teknik kompresi dada dan pemberian napas buatan untuk orang-orang yang detak jantung atau pernapasannya terhenti. Kondisi tersebut biasanya dialami oleh orang yang tenggelam atau terkena serangan jantung.

Faktanya kita (saya pribadi) masih awam dengan CPR ini, aku pribadi mulai notice CPE ketika melihat youtube milik Yulia Baltscun, saat itu Yulia bercerita tentang anaknya yang tiba-tiba tak bernafas, lalu ia merasa menyesal kenapa tak segera melakaukan CPR padahal ia memiliki sertifikasi CPR.

Aku segera mencari tahu CPR ini, dan merasakan kalau memiliki keahlian untuk melakukan CPR termasuk penting. Belum sampai disitu, tiktokku random lalu muncul sebuah video anak kucing yang mati, kemudian ada seseorang yang melakukan CPR meski tak dalam waktu singkat, kucing kecil itu biidznillah berhasil diselamatkan.

Berhentinya detak jantung memengaruhi peredaran darah yang mengandung oksigen ke otak dan organ vital lainnya. Hal ini bisa memicu kerusakan otak yang bisa mengakibatkan seseorang meninggal dalam hitungan menit. Namun dengan pemberian CPR, darah beroksigen bisa kembali mengalir ke otak dan seluruh tubuh.

Ditambah dengan kejadian Itaewon ini, aku merasa perlu untuk belajar teknik CPR. Dengan dimulai mencari tahu apa itu CPR dan bagaimana caranya.

Pentingnya belajar pertolongan pertama


CPR merupakan salah satu bentuk pertolongan pertama, kalau tak salah sebenarnya kita sudah mendapatkan pelajaran ini saat dibangku sekolah ya? Tepatnya di ekstrakurikuler pramuka, namun untukku pribadi ini hanya sebatas ilmu teori saja, untuk praktiknya blas nol besar aku bisa melakukan teknik CPR ini.

Untuk mempelajari CPR ini memang perlu berguru langsung kepada orang yang profesional. Namun karena dalih “kita orang biasa” sehingga enggan untuk mempelajari teknik ini. Meski nyatanya CPR ini cukup penting dikuasi oleh masing-msing orang.

Tak hanya CPR, ada pula pertolongan pertama yang perlu dipelajari sebagai life skill. Rasanya saat aku mencari tahu tentang pertolongan pertma ini, aku semakin menyadari bahwa ini sebenarnya termasuk life skill yang harus dipelajari bagi setiap individu.

Meski kita berharap dan berdoa semoga tak dekat dengan musibah. Teringat suatu malam saat kami sedang jalan-jalan malam di kota Semarang. Saat itu, kami melalui salah satu jalan yang terbilang tak ramai, dan ternyata kami menemukan satu orang terkapar di jalan, ternyata korban tabrak lari.

Orang-orang hanya melihat dari pagar rumahnya, dan mendekat hanya untuk melihat. Sedangkan untuk menolong mereka ragu-ragu. Wajar saja, karena memang bukan basic kesehatan, dan ilmu tentang ini memang hanya di dapat secara teori saja. Dan lagi, untuk menggotong orang yang tergeletak di jalan memang tidak bisa sembarangan. Lantas apa yang bisa dilakukan selain menelepon ambulan?

Suamikupun, saat itu hanya turun dari mobil dan membantu menyingkarkan motor, dan membantu mengatur lalu lintas. Aku pribadi hanya mengintip dari balik jendela mobil dan menenangkan anak-anakku yang bertanya kenapa itu kenapa.

Pertolongan pertama yang wajib di kuasai untuk anak-anak

Untukku pribadi sebagai seorang Ibu, rasanya aku perlu membekali diri dengan life skill ini, pertolongan pertama ketika di rumah, atau belajar pertolongan pertama di tempat profesional. Hal ini juga akan kuajarkan ke anak-anakku, apa yang harus segera dilakukan jika ia terjatuh misalnya. Harapannya tetap saja, semoga kita dan keluarga kita terhindar dari segala musibah dan mara bahaya.

Setidaknya ada beberapa pertolongan pertama yang wajib diketahui untuk kita dan anak-anak:
  1. Kulit terbakar
  2. Tertusuk serpihan benda asing
  3. Saat keluar darah, jatuh atau terkena pisau
  4. Mimisan
  5. Tersedak
  6. Keseleo
  7. Saat salah satu dari kami tak sadarkan diri
  8. Tersengat listrik

Related Posts

14 komentar

  1. Ngeri bgt ya mb.
    Aku jadi keinget drakor Itaewon Class.
    Daerah ini makin happening mungkin (salah satunya) gegara drakor itu yha

    BalasHapus
  2. Ya Allah sangat sedih dan banyak sekali.pelajaran yang didapatkan . Terutama kita juga tidak usah ikut-ikutan budaya orang .

    BalasHapus
  3. Ya Allah. Sampai 50 korban meninggal.

    BalasHapus
  4. aku waktu SMA ikut PMR jadi sudah dapet teori pertolongan pertama.Masalahnya kadang kalau panik dan situasi genting begitu semua ilmu rasa menguap yak.Tapi setidaknya kita harus tahu prosedur pertolongan pertama sebelum petugas kesehatan tiba

    BalasHapus
  5. ya Allaah bener banget mbaa :(( sedihh bangett ngebayangin di sana tuh aku gabisa ngapa2in jugaa, ga punya pengetahuan soal pertolongan pertama juga. jadi pelajaran yaa kak

    BalasHapus
  6. Kalau mayoritas masyarakat paham CPR, mungkin korban serangan jantung bisa berkurang. Pernah ada tetangga jatuh pingsan di rumahnya. Karena nggak ada yang paham CPR, langsung dibawa saja ke RS. Sampai di sana sudah nggak ada lagi.

    BalasHapus
  7. Ah iya, parah banget ya insiden di Itaewon ini
    Memang skill untuk melakukan pertolongan pertama itu perlu ya mbak

    BalasHapus
  8. Ah iya bener ya, kaget ama kejadian di Itaewon yang katanya sampai 150 lebih orang meninggal di acara ini. Jadi agak takut memang kalau udah desak-desakan terus sampai memakan korban. Bener sih, setuju, penting buat belajar pertolongan pertama

    BalasHapus
  9. Lagi booming berita tentang Itaewon ya, Mbak. Dari sudut pandang mbak menuliskan untuk bagaimana memberikan pertolongan pertama. Duh dulu aku juga anggota kesehatan sekolah tapi teori aja praktek sekarang 0 besar, huhuhu

    BalasHapus
  10. Kasus yang lagi rame ya ini. Aku belum baca kronologi kasusnya sih. Tapi intinya dari masalah kurangnya protokol keselamatan ya

    BalasHapus
  11. Aku ngeri banyak yang mati
    Padahal tujuan mereka senang senang kan ya
    Duh makin penting untuk berbuat baik supaya mati dalam keadaan baik pula

    BalasHapus
  12. iya ya, mbak. kayaknya ke depannya di sekolah atau institusi itu perlu diadakan materi tentang pertolongan pertama ini biar kalau ada terjadi hal-hal seperti di atas orang-orang umum bisa melakukan pertolongan pertama

    BalasHapus
  13. Betul sekali. Penting semestinya mengajarkan gimana cara memberi pertolongan pertama kepada warga awam. Sayangnya pemberian materi ini jarang disebarluaskan ya. Dulu saya sempat belajar sedikit pas Pramuka dan PMR.

    BalasHapus
  14. Dulu pernah pas acara workshop bareng Dinas Kesehatan ada sharing tentang cara melakukan CPR. Itupun kalau salah melakukannya malah bahaya lho mbak. Harus dicari tau dulu orangnya mengalami patah tulang atau tidak, takutnya gerakan CPR yang dilakukan malah memperparah luka dalamnya.

    BalasHapus

Posting Komentar