saraahmegha.com

5 Cara Mempersiapkan Anak Tanggap Bencana Alam

16 komentar
bencana-alam
Bencana Alam
Barusan aku melihat di salah satu halaman berita tentang seorang anak kecil berusia 6 tahun yang selamat dari gempa Cianjur beberapa waktu lalu. Anak tersebut ditemukan di samping jenazah si Nenek yang tertimpa reruntuhan, setelah 48 jam setelah tragedi gempa. Rasanya dadaku sesak, karena aku memiliki putra dengan usia yang sama.

Hampir mirip kisahnya dengan si Delisa, salah seorang anak yang selamat dalam tragedi Tsunami Aceh pada tahun 2004 lalu. Bahkan kisah Delisa diangkat ke layar lebar, dan berhasil mengaduk-aduk emosiku. Hampir sepanjang film air mata ini tak bisa terbendung.

Tak banyak film Indonesia yang kusuka, terbilang bahwa film Hafalan Sholat Delisa masuk ke dalam film favoritku, mungkin karena based true story, sehingga ceritanya cukup mengaduk aduk perasaanku.

Pengalaman ketika mengalami bencana alam

Ingatanku lalu kembali di tahun sekitar 1996 jika tak salah ingat. Saat itu kami tidur pulas seperti biasanya, lalu tiba-tiba ada suara keras yang membuat kami terbangun tiba-tiba. Suara pemberitahuan untuk siaga, Papaku kala itu merasa aneh dengan suara seperti pintu belakang di ketuk dan menabrak sesuatu. Aku ikuti Papaku dan membuka pintu belakang, tanpa komando air masuk ke dalam rumah kami dengan begitu cepatnya.

Aku ingat, saat itu aku langsung digendong dan mengungsi di masjid dekat rumah. Itu pengalaman pertamaku merasakna sensasi banjir bandang karena tanggul jebol. Rasanya cukup traumatis, bahkan sampi sekarang setiap aku melihat air, ada rasa tak nyaman di dadaku.

Tiba-tiba aku langsung teringat dengan Delisa dan anak laki-laki tadi, pasti rasa traumanya melebihi diriku, bahkan mereka juga kehilangan keluarga mereka dalam bencana.

Indonesia Negara rawan bencana

Tak dipungkiri, hampir setiap tahun Indonesia mengalami bencana alam. Dari bencana banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi atau yang cukup menggemparkan adalah bencana gempa, tsunami.

Dahulu aku pernah mendapat cerita dari ayahku, meski begitu Indonesia terbilang masih aman tak seperti negara luar yang lebih sering terjadi di luar negeri. Seperti gempa tahunan di Jepang, atau bencana angin tornado di benua amerika.

Namun, alam tetaplah alam kita tak bisa memprediksinya. Tahun lalu di rumah Mamahku juga sempat dilewati puting beliung, atap rumah Mamaku sampai hampir mau lepas, dan ternyata ada korban jiwa, satu korban jiwa. Meski begitu tetap saja ini termasuk bencana alam bukan?
Menurut data World Bank, Indonesia menempati peringkat ke 12 dari 35 negara yang paling rawan bencana. Diperkirakan lebih dari 40 persen penduduk Indonesia terancam dengan adanya risiko ini.

Indonesia secara geografis berada di negara kepulauan yang terletak diantara empat lempeng tektonik (lempeng Eurasia, Benua Indo-Australia, Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik). Indonesia juga berada di zona Ring of Fire, banyak gunung berapi yang aktif di Negara Indonesia. Hal inilah yang menyebabkan Indonesia rawan akan gempa bumi dan tsunami. Indonesia menempati peringkat pertama yang terancam tsunami menurut data United Nation Disaster Risk Reduction.

Tercatat bahwa terdapat 10 bencana alam terbesar di Indonesia, Letusan Gunung Merapi (1930 dan 2010)2, Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi di Palu dan Donggala (2018), Gempa Sumatera Barat (2009),  Letusan Gunung Toba 74.000 Tahun Lalu, Gempa Yogyakarta (2006), Tsunami Flores (1992), Gempa dan Tsunami Aceh (2004), Letusan Gunung Krakatau (1883), Letusan Gunung Tambora (1815) dan  Letusan Gunung Kelud (2014).

Persiapkan anak untuk Tanggap Bencana Alam

Tak dipungkiri sebagai orangtua pasti kita selalu berdoa agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang selalu Allah jaga baik itu dunia dan akhirat, meski begitu perlu bagi kita untuk mrmpersiapkan beberapa hal, supaya anak menjadi lebih tanggap dengan bencana alam.

1. Beri ilmu pengetahuan tentang bencana alam sesuai dengan usianya

Saat ini sudah banyak buku-buku dan dan vide yang membahas tentang bencana alam,kita bisa belajar bersama tentang bencana alam ini, untuk anak yang sudah paham kita bisa berdiskusi tentang tema ini. Anak akan belajar dan mengenali bahwa kita hidup di alam yang perlu dijaga, dan ada kalanya Allah memberi musibah berupa bencana alam.

2. Berdiskusi dengan anak

Setelah mengajarkan anak-anak tentang apa saja bencana alam, maka pembaca maya perlu berdiskusi dengan anak tentang apa saja yang perlu di siapkan dan bagaimana bila terjadi bencana alam.

3. Role Play menjadi pengungsi bencana

Anak-anak pada dasarnya menyukai bermain, kita bisa menyelipkan role play ketika sedang bermain, angkat tema "pura-pura kita menjadi pengungsi ketika bencana"

4. Berlatih untuk berlindung

Pada dasarnya kita memang tak bisa memprediksi bencana alam, namun kita perlu membekali anak tentang kemampuan untuk melindungi dirinya. Mengajarkan anak berenang bisa jadi solusi juga. Selain itu, orangtua perlu memberi tips berkomunikasi kepada anak, dan tentang kegawat daruratan, meski mereka terbilang masih belia.

5. Mengajarkan anak untuk tolong menolong

Prinsip dasar dalam evakuasi bencana adalah, selamatkn dirimu sendiri setelh itu selamatkan orang lain. Tak perlu membebankan pada anak, karena mereka masih anak-anak, namun ajarkan anak supaya mau tolong menolong, semisal berbagi makanan atau berbagai yang lainnya dengan dasar tolong menolong.

Meski aku pribadi belum benar-benar mengaplikasikan hal-hal tersebut, namun sejujurnya aku sudah memasukan skill kegawat daruratan dan skill ketika terjadi bencana alam dalam kurikulum kami. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dan keluarga kita dari segala bencana. aamiin aamiin.

Related Posts

16 komentar

  1. Bener banget nih mbak. Anak harus diedukasi sejak dini. Kalau perlu plus latihannya. Tadi lihat di berita, banyak sekali flyer, pengetahuan untuk antisipasi bencana, ada sosialisasi juga, tapi tanpa praktik atau latihan rasanya kurang nyantol gitu

    BalasHapus
  2. Memang anak kudu diajari tanggap bencana

    Kayak d jepang ya
    Supaya bs jadi skill

    BalasHapus
  3. Bener banget Mbak, aku kok baru ngeh belum pernah sama sekali membelikan buku tentang bencana dan cara penanggulangan untuk anak-anak. Bisa jadi untuk bekal mereka agar tidak kaget sewaktu waktu ada bencana alam yang mengintai

    BalasHapus
  4. Setuju banget, pemerintah mungkin perlu memasukkan how to dan guide nya ke kurikulum sekolah sebagai tindakan prefentif. Jadi anak-anak tahu bagaimana harus bersikap saat terjadi bencana yang tidak terduga.

    BalasHapus
  5. Setuju tanggap bencana masuk ke dalam kurikulum. Selain itu setelah dewasa juga tetap dilatih, mungkin naik levelnya belajar memberikan pertolongan pertama pada korban. Gemez lihat video di DPR, anggota DPR ngekek-ngekek pas ada gempa...

    BalasHapus
  6. Iya juga ya. Anak-anak harus diajarin tanggap bencana. Karena kita tidak tahu kedepannya.

    BalasHapus
  7. Bener banget. Penting lho memberi pengetahuan anak soal tanggap bencana. Sebenarnya tradisi semacam ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kita. Namun dahulu bentuknya lagu atau semacam syair, legenda yang diceritakan turun temurun. Contohnya tsunami. Ternyata ada semacam syair atau lagu yang turun temurun menceritakan tentang tsunami dan cara selamat darinya.

    BalasHapus
  8. Jadi ingatan ku kembali pada Gempa yang pertama kali saya rasakan di Padang begitu kencang sekali. Dan sampai hari ini pun masih trauma jika ada Gempa dan ingin segera keluar rumah.

    BalasHapus
  9. Saya termasuk memiliki ingatan buruk tentang gempa, bisa dibilang trauma karena pernah mengalami gempa cukup dahsyat di Lampung. Sampai sekarang kalau malam aku ngak pernah mengunci pintu melainkan cukup di slot aja, ingat dulu saat gempa mau masukin anak kunci aja susah sekali karena gugup. Yap, berdasar pengalaman sedikit demi sedikit aku mulai edukasi anak-anak tentang gempa. Mitigasi gempa dalam bentuk edukasi memang sangat penting agar anak tahu dan memiliki mindset cara tepat menyelamatkan diri ketika gempa terjadi.

    BalasHapus
  10. Setuju banget niy mba soal ini, anak-anak dari kecil harus sudah diperkenalkan dengan tanggap bencana. Salahs atu yang saya lihat anak-anak TK diajak mengenal profesi misalnya berkunjung ke tempat pemadam kebakaran dan menurut saya itu juga menjadi salah satu edukasi terhadap anak-anak dalam tanggap bencana. Tentunya selain itu banyak hal yang bisa kita lakukan seperti yang mba sebutkan 5 hal di atas

    BalasHapus
  11. Mitigasi bencana harusnya masuk di kurikulum sekolah sih menurutku. Kalau pun ngga masuk, para ortu bisa masukin di kurikulum keluarga

    BalasHapus
  12. Baru baru ini terjadi bencana gempa Cianjur ya mbak , membuat saya juga terpikir untuk mulai memberikan pelatihan tanggap bencana pada anak
    Apalagi Indonesia adalah negara yang rawan bencana

    BalasHapus
  13. Iya banget, kak..
    Terutama bagi kami yang tinggal di Bandung. Kalau mencari rumah yang di daerah atas (Lembang), suka diperingatkan kalau itu daerah longsor dan Sesar Lembang.

    Jadi memberikan ilmu mengenai anak yang tanggap bencana akan membuat mereka menjadi lebih siap ketika dihadapkan dengan kondisi yang buruk karena alam.

    BalasHapus
  14. Bener mbak, Indonesia termasuk negara rawan bencana. Jadi penting banget untuk menyiapkan mitigasi sedini mungkin. Saya yang bertahun-tahun di Makassar dulu dihadapkan pada situasi banjir, udah terbiasa waspada setiap kali turun hujan. Eh pindah ke Lombok, Alhamdulillah gak nemu banjir, malah nemunya gempa. Kaget gak tuh..hihihi

    BalasHapus
  15. Anak memang perlu dikasih edukasi tentang tanggap bencana ya Mba. Biar dia tahu nanti apa yang harus dilakukan.

    BalasHapus
  16. Terima kasih untuk insightnya, mbak. Aku malah belum pernah melatih anak-anakku begini. Memang perlu ya pelatihan tanggap bencana gini agar anak tau bagaimana paling tidak menyelamatkan dirinya sendiri dulu.

    BalasHapus

Posting Komentar