saraahmegha.com

2VBAC: Birth Story Syahieza Nawra Al Ghaaziy

Posting Komentar


“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu).”
Qodarulloh di kehamilan yang kali ini Allah beri nikmat SPD "Syndrom Pubis Disfunction" saat menginjak bulan ke enam. Aku yang biasanya lincah harus bersabar dan meringis tiap harus beraktivitas, sekedar ganti posisi tidur atau bangun tidur, bahkan untuk berganti baju, rasanya sesakit itu untuk berjalan. Baru tau kalau SPD saat ngobrol dengan mbak @adistyayuningtyass dan mbak @putrisarihati yang ternyata mengalamin hal yang sama. Meski saat itu aku mengeluhkan ke dokter, dan kata dokter bisa jadi karena aku kurang kalsium dan mendapat doble booster kalsium, diagnosa SPD ini tegak saat periksa ke bidan.

Jumat, 25 Agustus 2023

Kontrol ke dokter kandungan, biidznillah 9 bulan kontrol alhamdulillah adek bayi dengan progres baik-baik saja, kecuali saat kontrol di usia 32 week di mana kata dokter berat adik bayi besar, yang lalu saat kontrol di 34 week tetiba berat badan adik bayi hanya naik 50 gram, namun saat itu meyakini bisa jadi ada salah perhitungan dari alat USG, karena tepat di anatar 32-34 aku juga memeriksakan si adik bayi ke bidan Ibu Alam sekalian ikut kelas offlinenya, dan bidan mengatak kondisi baik-baik saja, berat badan adik bayi terpantau bagus biidznillah tidak besar dan tidak kecil.

Saat kontrol ke dokter, dokter menunjukkan raut muka yang tak enak, "DJJ adek tinggi lho ini" kata beliau, yang lalu di cek lagi sampai dua kali, kemudian diminta untuk CTG 20 menit untuk memastikan detak jantung. Dokter sudah acc untuk ikhtiar 2VBAC, namun kalau djj adek masih tetap tinggi terpaksa harus segera ditindak, karena gak bisa induksi.

Usai CTG 1, dokter meminta untuk segera rujuk ke rumah sakit untuk tindakan diinfus, dengan polos kutanya "setelah diinfus, dan misal kalau djj stabil boleh pulang dokter? Atau langsung tindakan, soalnya ini belum ada tanda-tanda kontraksi dan pembukaan".

"Sebelum ke sini tadi udah makan belum? Gini aja abis ini makan dulu, sama minum air manis dua gelas ya, setelah itu tes CTG kedua ya".

Sejujurnya setelah itu ada rasa kalud, khawatir dan nano-nano lainya, hasil dari dokter ini langsung kukabarkan ke tim Ibu Alam, mbak Widi selaku doula memintaku untuk tenang dan banyak istighfar, lalu memintaku untuk melakakukan gerakan sujud, karena gerakan ini bagus memberi asupan oksigen ke adek bayi. Selain memberi kabar kepada Mbak Widi, aku juga mengirim pesan ke Mbak Gevi, salah satu doula kenalanku yang bisa dibilang kami sering berkomunikasi dan bertukar pikiran (hejyan bertukr pikiran), Mbak Gevi juga menyarankanku untuk tenang dan jangan langsung panik, dan nasehat nasehat lainnya. 

Pas banget Mbak Gevi abis bikin status ini, ya langsung kuchat


Dan ofkors cerita ke sobat sambat @septiana_cahyaningsih @ummuhanifah23, minta doa supaya adek bayi baik-baik saja dan sesuai harapan dan doa bisa 2VBAC, panik gak? Ya iya panik sih sih sebenernya. 

Alhamdulillah setelah galau dan khawatir gimana-gimana setelah CTG 2 dokter mengizinkan untuk pulang dan cek kandungan di pekan berikutnya.

Catatan: saat kontrol tanggal ini, kondisi mentalku sedang tidak baik-baik saja, kesel sama kelakuan Ghaaziy yang ada ajaaaaaa, bikin emosi pokoknya, dan mungkin karena faktor malam sehingga kondisi fisik sedang capek-capeknya. Ada kenyataan yang menarik, ternyata kondisi mental fisik seorang ibu berpengaruh pada kondisi janin. Saat CTG pertama, dalam ruangan ada aku, pak bojo dan duo Ghaaziy, karena Ghaaziy yang super kepo, dia memegang apa saja yang ada alam ruangan membuatku tersulut emosi, dan apa yang terjadi? saat emosiku naik, secara mengejutkan alat CTG juga menunjukan denyut jantung adik bayi naik juga.

Senin, 28 Agustus 2023

Selayaknya ibu ibu yang masih khawatir DJJ bayi, akhirnya memutuskan untuk cek lagi ke bidan terdekat perihal djj si adek, salah seorang teman mengatakan "Coba cek saat pagi atau siang mbak, bisa jadi pas cek malam kemarin, mbak dalam kondisi capek atau memang sedang lapar".

Klinik ini sempat masuk ke birthplanku, Plan A di Ibu Alam Salatiga, dan Plan B di Klinik Bidan Okta yang dekat dengan rumah. Ada banyak pertimbangan kenapa aku memilih Klinik ini. Kalau di Ibu Alam, karena sebelumnya lahiran di sana, sehingga ada rekam medis sebelumnya, namun ada yang mengganjal selain karena jaraknya yang luar kota, khawatir seperti Naazneen yang hampir brojol di mobil hahahaha (meski Bidan Dewi mewanti-wanti jangan sampai kebrojolan yaa). selain itu mungkin karena tidak ada yang membantu menjaga dan mengawasi Ghaaziy dan Naazneen, pasti saat persalinan suamiku fokus di aku, dan bagaimana dengan si duo? qodarulloh saat itu mamaku juga sedang tidak bisa menemani qodarulloh. Sempat kalut dan galau persalinan, jadi tiap ditanya mau lahiran di mana bingung jawabnya apa.

Lalu kepikiran ke Klinik Bidan Okta, pertimbangan dekat dengan rumah, dan saat ke klinik sepertinya memungkinkan anak-anak dijaga dengan salah satu asisten bidan di sana. Selain itu "Kalau ada apa-apa" dekat dengan rumah sakit juga. Tapi, permasalahannya saat itu, apakah klinik tersebut bersedia menerima pasien yang memiliki riwayat SC, meski lahiran kedua alhamdulillah VBAC. 

Qodarulloh mungkin ini cara Allah untuk "periksa" ke Klinik Bidan Okta, awalnya untuk cek DJJ adik bayi, dan di sana bisa cek USG juga sehingga terpantau. Penjelasan Bidan Okta juga lembut dan pelan-pelan, hampir 30 menit aku periksa dan beliau dengan sabar menjelaskan dan menenangkan kegalauanku. Alhamdulillah di klinik ini berkenan untuk menjadi tempat lahiranku, meski aku memiliki riwayat SC, setelah cek rekam medis dan hasil lab di "buku pink".

Saat periksa, alhamdulillah adik bayi baik-baik saja, dan kukatakan kepada bidan, sepertinya udah mulai kontraksi-kontraksi, meski belum teratur. Dan alhamdulillah saat di cek sudah bukaan 1, di mana saat itu estimasiku bisa saja bukaan kedua butuh waktu seharian haha, jadinya setelah periksa aku mengajak pak bojo dan anak-anak ke gramedia sembari jalan-jalan dalam artian yang sebenarnya sambil naik turun tangga, meski sezuzurnya dengan kondisi SPD ini rasanya subhanallah sekali.

Betewe kontraksinya ini udah bagus, sampai pagi masih kerasa kontraksi. Namun pagi harinya di tanggal 29 Agustus 2023 kontraksinya hilang, gak kerasa sama sekali huhuhu. Namun, sorenya mulai pukul empat sore, kontraksinya mulai lagi.

Rabu, 30 Agustus 2023

Per sore jam 4 udah mulai kontraksi inten tiap 10 menit sekali, dan qodarulloh terjaga jam 1 malem, ternyata kontraksi masih ada setelah dua hari berasa kena php, malem kontraksi paginya hilang. Qodarulloh saat itu Ghaaziy sedang gak enak badan, batuk. Naazneen juga sedang sakit, saat itu demam, jadinya aku ikutan gak bisa tidur kebawa khawatir anak-anak. Sempat bisik-bisik ke adik bayi, "Adik bayi apa mau keluarnya nunggu Mas Ghaaziy sama Mbak NAazneen sembuh ya?"

Karena kontraksinya masih terasa meski sudah kubuat tidur, saat terjaga memilih untuk jaga kontraksinya supaya tetap bagus, merasa ter php kontraksi kemarin soalnya, jadi seperti ada 

Karena ikhtiar jaga kontraksi jadi dari jam 1 kubuat "doa", squat, main gymbal, sesekali power walk sambil nonton yutub bidan kriwil dan tiktoknya @bidanbila (upaya buka pintu panggul pakai gymball). Kontraksi masih sama per 10-7 menitan.

Jam setengah empat boyok rasanya udah mulai panas, tapi masih bisa cengar cengir, sesekali ke kamar suami, mau bangunin beliau buat minta dipijit, tapi urung niat. Kenapa? Mungkin karena sungkan ya, beliau beberapa hari terakhir ini lemburan kerjaan, jadi mungkin capek sekali, tapi saat itu akhirnya minta dipijit bagian pinggang, meski beliaunya sambil tidur. 

Terpaut 10 menit, Naazneen bangun nyusul minta dikeloni dan ketiduran di ruang depan. Karena masih demam jadi ya ngurusi Naazneen dulu, ngasih obat lalu ngeloni di kamar, saat itu mikirnya "ahh sekalian tidur sebentar sampai jam setengah enam hahaha". Saat ngeloni, kontraksinya udah mulai kuat, jadi udah di tahap bikin mringis, tapi masih bisa dibuat senyam senyum. Sempat ketiduran 10 menit, lalu terbangun dan memutuskan untuk "bikin kopi ah", sambil bilang ke pak bojo "Aba, nanti abis sholat subuh langsung pulang ya, gak usah nunggu syuruq dulu ya" (karena biasanya beliau ini pulang subuh, nunggu syuruq), dan qodarulloh nak lanang juga udah bangun buat ikut sholat subuh.

Jam 5, Saat mau ke dapur, tetiba "cuuuur" bukan mak pyok, curiga ini ketuban. Lalu ke kamar mandi, pas pak bojo sudah pulang langsung bilang buat siap-siap ke bidan aja.10 menit duduk di toilet ada sensasi keinginan ngeden, lagi lagi masih denial ini masih bukaan satu, bener-bener deh aku ini, gak pas jaman Naazneen dan Nawra sama-sama denial kalau ini masih bukaan satu. Tapi positifnya karena ngira masih bukaan satu, aku gak yang gimana-gimana dan masih bisa senyam-senyum, karena kontraksi masih berantakan, dan mucus juga belum keluar, tapi udah pengen ngeden plus mual mual.

10 menit untuk berdiri udah mulai terasa mules-mules, bilang ke pak bojo untuk bantu pakai baju di kamar mandi, kemudian dipapah berjalan. Tiba-tiba saat berdiri kontraksi yang awalnya masih bisa kubuat cengar-cengir menjadi lebih kuat dan diiringi ingin mengejan, modal ilmu sebelumnya sekuat tenaga untuk kegel kuat-kuat.

Selangkah demi selangkah dipapah suami, alhamdulillah mulai meracau dan bersyukur racauannya kalimat syahadat. Tiap selangkah kerasa mau ngeden, dan puncaknya di depan pintu rumah persis, saat tinggal masuk ke pintu mobil.

Sempat emosi, saat Ghaaziy berkata "Adeeek ayoo cepet keluar dek, aziy mau dibeliin mainan nih dek." Kemarin saat di gramedia sempat janjiin mainan ke Ghaaziy saat adiknya lahir, tapi ya gak gini jugaaa. Rasanya udah mau kukruwes kruwes haha, belum lagi Naazneen yang drama pakai nangis-nangis mencari maskernya. 

"Yaa Allah" 

Tepat di depan pintu rumah, tinggal beberapa langkah masuk ke pintu mobil, udah gak kuat rasanya, keinginan mengejan yang cukup brutal. Suara kayak udah tercekat, pak bojo ngingetin support "Ayo mi bisa bisa selangkah lagi, ayo aba gendong ini" tapi semakin pak bojo support semakin aku mengelak dan menolak untuk usaha berjalan. bayangkan digendong bojo, menurut hukum matematika dan hukum fisika apalagi kimia dah keliatan depan mata yang ada gak digendong, yang ada adalah jomplang hahaha. 

Pak bojo masih berusaha memberi support untuk melangkah menuju mobil, namun memang rasanya udah gak kuat jalan, anak-anak saat itu udah keluar duluan main kejar-kejaran sama kucing. Dengan suara parau dan semi teriak.

"De mii Allah abaaa, istri gak kuaaat gaaak kuaat, gak kuat jalan lagi."
"Ayo hami bisa, bisaa kuaat ayoo"
"Gaak kuat abaa, ambilin hape istri ba, telpon bidan ba, ke sini aja ba, gak kuat jalan ba"

Saat pak suami sedang ambil hape, tangan kiriku memegang gagang pintu, dan tangan kanan pegangan jendela, ada keinginan mengejan yang amaaat amaat kuat sampai udah gak bisa kutahan dengen kegel.

Kuraba bagian bawah, dan "CROWN!!"

Langsung teriak ke pak bojo, "Abaaaaaaa, adik bayi mauuuuuu brojoooooollllllll" dan reflek langsung meluk pak bojo posisi berdiri,

"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah, Allahuuuu akbar!!"

Dan kuasa Allah, putri kami lahir saat itu juga.

Reflek sigap aku dan pak bojo segera menangkap bayi. Biidznillah kuasa Allah, kuasa Allah kuasa Allah.

kontraksi masih berantakan


Babak selanjutnya

Belum usai, adik bayi lahir dengan posisi berdiri sambil gendong adik bayi dengan plasenta masih menempel di rahim. Aku segera menginstruksikan ke Pak Bojo untuk ambil perlak dan membaringkanku di ruang tengah, karena untuk jalan sudah tak memungkinkan. Perut rasanya masih kerasa mules, karena masih ada plasenta, Pak bojo segera menghubungi tim Bidan Okta. 

Adik bayi dalam pelukan belum menangis kencang, ada rasa khawatir tak tertahankan. kubuka kerudung dan pakaianku dan segera kupeluk, pak bojo mengambil selimut supaya adik bayi hangat. Kita gak ada ilmu tentang "kebrojolan" murni insting, mutlak digerakkan Allah. sekitar 5 menit kemudian ada keinginan kuat mengejan kedua, dan plasentaku keluar. 

Alhamdulillah Bidan Fitri datang ke rumah 10 menit. Meski begitu kami tetap dirujuk untuk ke klinik. Untuk dibersihkan plasenta dalam rahimnya dijahit jalan lahirnya meski kata Bidan Fitri kemungkinan dijahit satu, tapi menurutku lebih hahaha. Segera bergegas ke klinik untuk minimalisir pendarahan. Alhamdulillah adik bayi menangis. Mendengar suaranya bikin aku legaaa banget, rasa perih panas sakit kayak tergantikan dengan syukur yang tak kalah hebatnya. 

Manusia berencana A dan B, tapi kuasa Allah diberi rencana C yang ma syaa Allah manis banget.

Menjemput 2VBAC

Teringat obrolan bersama mbak @edygeviariyani, "Mbak, apakah untuk 2VBAC kita juga harus berdaya?", yang intinya jawaban mbak gevi saat itu cukup membuatku ingat, seringnya karena kita merasa bisa di yang pertama, kita lalai untuk usaha yang kedua mbak.
.
Sehingga di kehamilan ini aku ikhtiar menjemput 2VBAC, diawali berdoa minta sama Allah supaya diizinkan VBAC lagi, meski kalaupun SC lagi ya gak papa, yang penting ibu dan anak baik selamat.
.
Ikut beberapa komunitas VBAC salah satunya komunitas mbak gevi @komunitassupportvbac, ikut grup telegram @ceritaVBAC, ikut kelas offline bersama mbak shafira di @ibualam, ikut kelas di @doulasahabatibu bersama mbak diana yang ngajari acupresure, teknik nafas, kapan saatnya push dan not push, dan ilmu ilmu lainnya yang ma syaa Allah . O iya aku juga mensuscribe akun yutub bidan kriwil, karena edukasinya bagus banget, dan beberapa bidan di tiktok. Mengupayakan, ikhtiar maksimal meski sempet ngeluh karena SPD sehingga agak kepayahan untuk jalan pagi dan senam hamil, doa juga maksimal.
.
Dan lagi lagi pasrah pada ketentuan takdir Allah.

Penutup

Ada dua ayat yang entah kenapa teringat terus di kehamilan Nawra, surat Maryam ayat 23-24
Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan". Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.(23-24)
Saat di ruang observasi sambil dijahit, pikiranku kemana mana, salah satunya tentang rencana Allah yang "kok bisa ya kok bisa ya".

Meski tak boleh berkata andaikata, aku sempat terpikirkan ini. Andaikata kala itu dokter gak bilang tentang djj, bisa jadi aku gak akan periksa ke Bidan Okta. Membayangkan andaikata gak periksa ke sana, siapa kiranya yang membantu pasca persalinan ya, mengingat kebrojolan adalah salah satu persalinan yang beresiko. Bahkan Bidan Fitri juga mengatakan tak sekali dua kali menangani kasus kebrojolan, yang mana tiap ada kenrojolan Bidan Fitri berkata, "Kalau saya tetiba dikabari ada kebrojolan, pas berangkat saya tu deg degan banget mbak, sambil banyak banyak doa, soalnya kebrojolan itu kasua beresiko, apalagi kalau misal gak ada rekam medis di kami" ma syaa Allah.

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar